Gunung gamalama meletus

Inilah Sekelumit Kisah Gunung Gamalama

Kompas.com - 05/12/2011, 18:24 WIB

KOMPAS.com — Semburan abu vulkanik dari Gunung Gamalama, Ternate, yang terjadi pukul 00.08, Senin (5/12/2011), seakan makin menegaskan kalau gunung setinggi 1.715 meter di tengah Pulau Ternate itu tidak pernah berhenti bergolak.

Gamalama yang namanya diambil dari kata Kie Gam Lamo (negeri yang besar) itu sudah lebih dari 60 kali meletus sejak pertama kali meletus pada tahun 1538.

Erupsi yang menimbulkan korban jiwa setidaknya sudah empat kali terjadi, dan yang terbanyak terjadi tahun 1775. Kala itu, erupsi gunung melenyapkan Desa Soela Takomi bersama 141 penduduknya. Pascaletusan, di lokasi desa yang berjarak 18 kilometer dari pusat Kota Ternate itu muncul dua danau, yaitu Danau Tolire Jaha dan Tolire Kecil.

Erupsi terakhir dari gunung yang namanya kemudian diadopsi oleh artis Dorce Gamalama itu terjadi tahun 2003. Letusan tidak besar, tidak ada korban jiwa yang ditimbulkan. Namun, selama setidaknya satu pekan, abu menutup langit Ternate. Bandar Udara Sultan Babullah, bandar udara utama pintu masuk ke Maluku Utara, ditutup, sebagian masyarakat pun memilih mengungsi ke Tidore, pulau terdekat dari Ternate.

Setelah letusan itu, Gamalama tampak diam. Namun, sejak tahun 2009, Gamalama kembali menunjukkan aktivitas. Petugas Pos Pengamatan Gunung Gamalama Darno Lamanek mengatakan, sejak tahun 2009, status Waspada diberlakukan pada gunung tersebut mengacu pada aktivitas gunung yang meningkat.

Status Waspada merupakan level ketiga dalam kewaspadaan gunung berapi aktif. Kemudian baru Senin dini hari, status itu naik menjadi level kedua, Siaga.

Aktivitas gunung yang tak pernah tidur itu pula yang memunculkan tradisi Kololi Kie, yang kini digelar rutin setiap bulan April, sebagai salah satu pertunjukan dalam Festival Legu Gam, pesta rakyat Maluku Utara. Sebuah ritual tradisional masyarakat sejak zaman dahulu kala untuk mengitari Gamalama sambil mengunjungi sejumlah tempat dan makam keramat, yang salah satu tujuannya berharap agar Gamalama tidak meletus.

Meski Gamalama tidak pernah berhenti bergolak, hal itu tidak sama sekali menghentikan denyut kehidupan 185.705 warga Ternate di kaki dan punggung Gunung Gamalama. Yang terjadi justru sebaliknya, jumlah penduduk terus bertambah. Laju pertambahan penduduk setiap tahun mencapai 4,72 persen atau sekitar 8.000 orang.

Bangunan-bangunan baru pun terus bermunculan. Ternate yang merupakan pintu masuk ke Provinsi Maluku Utara memungkinkan semua ini terjadi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau